• Senin, 28 November 2022

Sitor Situmorang, Sang Penyair dari Tano Batak

- Kamis, 24 November 2022 | 13:02 WIB
Sitor Situmorang, Sang Penyair dari Tano Batak (Website Sitor Situmorang)
Sitor Situmorang, Sang Penyair dari Tano Batak (Website Sitor Situmorang)

 

VOLKPOP.CO – Tanah Batak seakan tiada henti melahirkan para seniman berbakat. Dari tanah itu pula, lahir seorang sastrawan terkenal bernama Sitor Situmorang.

Penyair kelahiran 2 Oktober 1924 ini mengawali kariernya sebagai redaktur Suara Nasional terbitan Sibolga. Setelah itu, Sitor menjalankan tugas kewartawanannya di Jakarta dan Yogyakarta. Kariernya sebagai wartawan melejit ketika ia berhasil melakukan wawancara dengan Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Belanda. Seluruh pemberitaan baik nasional maupun internasional tidak luput menggunakan hasil wawancara tersebut.

Pada tahun 1950-an, Sitor mulai berfokus pada dunia sastra. Beberapa karyanya yang diterbitkan adalah Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956), puisi Zaman Baru (1962), cerpen Pangeran (1963) dan esai Sastra Revolusioner (1965).

Baca Juga: Chairil Anwar, Si Eksentrik Pecinta Gadis-Gadis Cantik dan Cerdas

Sitor Situmorang menghadapi berbagai pergolakan dalam perjalanan kepenulisannya. Penyair Angkatan ’45 harus mendekam di penjara selama 8 tahun sebagai respon pemerintah atas esai Sastra Revolusioner. Nyatanya, penjara tidak berhasil memenjarakan imajinya. Dalam situasi tersebut, Sitor Situmorang tetap menghasilkan tulisan yang bertajuk Dinding Waktu dan Peta Perjalanan.

Pada akhirnya, Sitor memutuskan menetap di luar negeri. Dalam perantauannya, Sitor tidak berhenti menulis. Karya tersebut antara lain cerpen Danau Toba (1981), Angin Danau (1982), cerita anak–anak Gajah, Harimau dan Ikan (1981), Guru Simailang dan Mogliani Utusan Raja Rom (1993) dan Toba Na Sae (1993).

Beberapa karyanya juga sudah diterjemahkan ke berbagai Bahasa seperti Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990) ke dalam Bahasa Belanda, To Love, To Wonder (1996) ke dalam Bahasa Inggris serta Paris la Nuit (2001) ke dalam Bahasa Perancis, Cina, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia.

Baca Juga: 5 Buku Pramoedya Ananta Toer yang Seharusnya Dicetak Kembali

Halaman:

Editor: Yoni Prawardayana

Sumber: Kemdikbud

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Marcel Proust: "Mencari Waktu yang Hilang"

Sabtu, 26 November 2022 | 20:01 WIB

Sitor Situmorang, Sang Penyair dari Tano Batak

Kamis, 24 November 2022 | 13:02 WIB

Rahasia Dibalik Awetnya Kebudayaan Bali

Senin, 21 November 2022 | 16:04 WIB

Rumoh Aceh, Rumah Khas Provisi Aceh

Minggu, 20 November 2022 | 20:17 WIB

Pacu Jawi, Atraksi Menantang yang Jadi Daya Tarik Wisata

Minggu, 20 November 2022 | 18:39 WIB

Mengenang Sajak Perlawanan Widji Thukul.

Sabtu, 19 November 2022 | 20:05 WIB
X