• Kamis, 29 September 2022

Bullying adalah Anak Haram yang Secara Tidak Sengaja Kita Lahirkan

- Minggu, 24 Juli 2022 | 19:36 WIB
Ilustrasi Stop Bullying. (Freepik)
Ilustrasi Stop Bullying. (Freepik)

VOLKPOP.CO - Kasus bullying yang menimpa bocah berusia 11 tahun berinisial F di Tasikmalaya, Jawa Barat, mengusik hati nurani saya. Bagaimana tidak, bukan hanya dirundung secara verbal dan fisik, ia dipaksa menyetubuhi seekor kucing dan direkam!

Bocah tersebut hancur tidak hanya tubuhnya, tapi juga mentalnya yang membuat ia sakit-sakitan karena tidak mampu memasukkan satupun nutrisi ke tubuhnya akibat trauma. Seminggu kemudian, ia menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (18/07/2022).

Perasaan marah, pilu, sedih menjadi satu. Sebagai penyintas korban bully 13 tahun lalu, saya merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya saya membuat artikel ini sebagai bentuk dukungan agar kasus ini bisa diungkap, dan pelaku bisa mendapatkan hukuman setimpal.

Baca Juga: Pengalaman Absurd Bernegosiasi dengan Spesialis Copet Suporter di Kota Malang

Kasus bullying menurut saya bukan hanya kesalahan pelaku bully sebagai pusat malapetaka ini. Perilaku bully adalah produk kurangnya kepedulian masyarakat kepada lingkungan bermain anak.

Alasan-alasan seperti sibuk kerja sampai sibuk mengurus rumah tangga, selalu menjadi alasan para orang tua agar bisa lepas dari tanggung jawab memberikan perhatian lebih kepada anaknya. Membiarkan anak tumbuh secara liar di masyarakat adalah kejahatan! 

Anda tidak pernah tahu apa yang anak anda lakukan, apakah ia berbuat nakal atau tengah dirundung. Dan ketika kejadian perundingan terjadi, orang tua selalu mengentengkan masalah. Alasan-alasan seperti 'cuma kenakalan anak biasa' sampai 'jangan dekati anak nakal' selalu membuat saya tidak habis pikir.

Sementara pihak sekolah, atas nama image sekolah tetap terjaga, mereka menutup mata dengan kejadian-kejadian bully di sekolah. Sementara guru-guru membuat alasan sudah terlalu capek mengurus siswa/siswinya setelah seharian mengajar, atau tidak bisa mengawasi anak didiknya satu per satu.

Baca Juga: Ironi Kekerasan Anak di Kabupaten Malang saat Hari Anak Nasional 2022

Halaman:

Editor: Rizal Adhi Pratama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Jurnalis Berevolusi menjadi Kuli Tinta

Rabu, 21 September 2022 | 22:17 WIB

Belajar Survive dari Pandji Pragiwaksono

Kamis, 15 September 2022 | 17:42 WIB

Belajar Realistis dari Jon Snow di Series Game of Thrones

Selasa, 13 September 2022 | 14:18 WIB

Jangan Jadikan Golput sebagai Tameng Politik

Selasa, 13 September 2022 | 12:43 WIB

Jangan Mati Sebelum Manga One Piece Tamat

Sabtu, 10 September 2022 | 23:30 WIB
X