• Kamis, 29 September 2022

Review Film Trees of Peace, Usaha Bertahan Melawan Pemburu

- Sabtu, 9 Juli 2022 | 12:14 WIB
Poster film Trees of Peace (2022). (Thereviewgeek.com)
Poster film Trees of Peace (2022). (Thereviewgeek.com)

VOLKPOP.CO - Apa jadinya jika kita harus bersembunyi di ruang bawah tanah selama 81 hari? Apa yang harus dilakukan saat kita kebelet sedangkan situasi tidak memungkinkan untuk pergi ke toilet? Bagaimana cara mengatur stok makanan karena kita harus berbagi dengan yang lain? Kegiatan apa yang akan kita kerjakan untuk mengisi hari-hari ketika menunggu sang malaikat penyelamat? 

Semua deretan pertanyaan itu akan bisa dijawab secara tuntas jika kita sudah menonton film drama berjudul Trees of Peace.

Trees of Peace adalah film yang diproduksi oleh layanan streaming video Netflix dan telah dirilis sejak Juni 2022. Film ini mengambil latar tahun 1994 di Rwanda saat terjadi peristiwa yang dikenal dengan sebutan genosida Rwanda. Dilansir dari britannica.com, genosida Rwanda adalah kampanye pembunuhan massal yang terjadi selama sekitar 100 hari pada bulan April hingga Juli 1994. 

Baca Juga: Thor Love and Thunder, Film Komedi Berkedok Superhero

Genosida tersebut diprakarsai oleh kelompok ekstremis dari suku mayoritas di Rwanda, Hutu, yang berencana untuk membunuh suku minoritas Tutsi. Didorong oleh propaganda media, diperkirakan sekitar 200.000 suku Hutu berpartisipasi dalam genosida yang menewaskan kurang lebih 800.000 warga sipil. Korban jiwa tidak melulu dari suku Tutsi saja, melainkan juga dari suku Hutu itu sendiri yang berpandangan moderat.

Dikutip dari thereviewgeek.com, sebelum Trees of Peace, ada beberapa film yang mengangkat latar serupa, misalnya 100 Days (rilis tahun 2001), Hotel Rwanda (rilis tahun 2004), dan Shooting Dogs (rilis tahun 2005). Kehadiran Trees of Peace cukup menawarkan keunikan karena mengambil latar tempat di satu lokasi saja. Diantara adalah ruang bawah tanah untuk menyimpan makanan, dan di sanalah, empat perempuan dari latar belakang berbeda harus berkerumun dan bersembunyi demi menghindar dari aksi pembunuhan brutal. 

Empat perempuan tersebut bernama Annick, Jeanette, Mutesi, dan Peyton. Annick, adalah pemilik rumah sekaligus ruang bawah tanah itu. Saat bersembunyi di sana, ia sedang dalam keadaan mengandung. Annick sebenarnya berasal dari suku Hutu. 

Baca Juga: Pengabdi Setan 2 akan Tayang 4 Agustus 2022 di Bioskop

Namun, keputusannya menentang tindakan genosida menyebabkan ia dan suaminya, Francois, menjadi target pembunuhan. Bagi kelompok ekstrimis Hutu, orang-orang dari golongan mereka sendiri yang membantu musuh juga wajib dijagal.

Halaman:

Editor: Rizal Adhi Pratama

Sumber: britanica.com, thereviewgeek

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Jurnalis Berevolusi menjadi Kuli Tinta

Rabu, 21 September 2022 | 22:17 WIB

Belajar Survive dari Pandji Pragiwaksono

Kamis, 15 September 2022 | 17:42 WIB

Belajar Realistis dari Jon Snow di Series Game of Thrones

Selasa, 13 September 2022 | 14:18 WIB

Jangan Jadikan Golput sebagai Tameng Politik

Selasa, 13 September 2022 | 12:43 WIB

Jangan Mati Sebelum Manga One Piece Tamat

Sabtu, 10 September 2022 | 23:30 WIB
X