• Jumat, 30 September 2022

Gara-Gara ELVIS, Bohemian Rhapsody jadi Kelihatan Biasa aja

- Sabtu, 25 Juni 2022 | 01:33 WIB
Poster film ELVIS (2022).  (Instragram @elvismovie)
Poster film ELVIS (2022). (Instragram @elvismovie)

VOLKPOP.CO - Bagi saya Bohemian Rhapsody (2019) adalah film biopik musisi legendaris terbaik, setidaknya sampai 23 Juni 2022. Sementara ELVIS (2022), saya tidak terlalu realete karena jarak generasi yang cukup jauh. Berbeda dengan Queen yang di era 2000an lagu-lagunya masih berseliweran di radio sampai anthem olahraga.

Saya juga sebenarnya tidak punya ketertarikan lebih untuk menonton film yang disutradarai Baz Luhrman ini. Apalagi melihat kantong saya yang mulai tipis di akhir bulan. Rasanya agak berat mengarahkan stir motor ke bioskop.

Namun, saya akhirnya memilih memberi makan keegoisan saya, dan membeli tiket di jam terakhir. Saya memutuskan menonton ELVIS, di jam 08.45 WIB dengan hanya sekitar 10 penonton lainnya di dalam teater.

Baca Juga: Film Biopik Elvis Ditargetkan Raup Juta saat Debut

Alangkah terkejutnya saya bahwa dari segala sisi, Bohemian Rhapsody kalah segalanya. Bisa dibilang plot cerita film karya duet sutradara Bryan Singer dan Dexter Fletcher dikemas monoton, Baz Luhrman memiliki jalan yang anti-mainstream.

Film biopik yang biasanya dimulai dengan masa kecil atau saat pertama kali tokoh utama menemukan bakatnya. Luhrman memiliki memulai cerita ketika manajer Elvis Presley, Kolonel Tom Parker (Tom Hanks) sekarat. Pria gemuk ini lalu melakukan monolog pembelaan terkait tudingan bahwa ia mencurangi Elvis selama menjadi manajer. Ia lalu mem-flashback pertemuannya dengan sang Raja Rock N' Roll.

Sementara Bohemian Rhapsody terasa cukup membosankan di plot awal sampai tengah film. Hanya saat di mana Freddie Mercury (Rami Malek) mulai menjadi gay sampai akhir film yang terasa menarik. Banyak materi-materi film yang dijejalkan, sehingga terasa memaksa agar seluruh kehidupan sang vokalis Queen bisa dirangkum dalam 2 jam 13 menit.

Rami Malek di Bohemian Rhapsody. (Foto: Net)

Berbeda dengan ELVIS, meskipun plot dibuat melompat-lompat dan sering memunculkan flashback. Skenario film ini dibuat sangat rapi, sehingga penonton merasakan pengalaman menonton yang berbeda. Sepanjang film berdurasi 2 jam 39 menit ini mata saya terus melotot meskipun film ini berakhir pukul setengah 12 malam.

Halaman:

Editor: Rizal Adhi Pratama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Ketika Jurnalis Berevolusi menjadi Kuli Tinta

Rabu, 21 September 2022 | 22:17 WIB

Belajar Survive dari Pandji Pragiwaksono

Kamis, 15 September 2022 | 17:42 WIB

Belajar Realistis dari Jon Snow di Series Game of Thrones

Selasa, 13 September 2022 | 14:18 WIB

Jangan Jadikan Golput sebagai Tameng Politik

Selasa, 13 September 2022 | 12:43 WIB

Jangan Mati Sebelum Manga One Piece Tamat

Sabtu, 10 September 2022 | 23:30 WIB
X