Mendengar Hak Pendidikan Anak-anak di Rusun Puspa Agro: Butuh Buku Paket dan Tenaga Pengajar

- Selasa, 6 September 2022 | 16:49 WIB
Tampak bagian dalam rumah susun di Puspa Agro, Desa Jemundo, Sidoarjo. Tembok bangunan itu berwarna biru pudar, beberapa bagian tembok tampak terkelupas. Selain itu, ada ruangan yang terlihat kosong, tidak ada penghuni. (Save the Children (STC))
Tampak bagian dalam rumah susun di Puspa Agro, Desa Jemundo, Sidoarjo. Tembok bangunan itu berwarna biru pudar, beberapa bagian tembok tampak terkelupas. Selain itu, ada ruangan yang terlihat kosong, tidak ada penghuni. (Save the Children (STC))

VOLKPOP.CO – Gedung rusun itu berwarna biru pudar. Banyak bagian temboknya yang terkelupas karena usia bangunan dan cuaca yang menahun. Ada anak-anak yang bermain di sana, mereka memakai kain abu-abu mirip selendang yang ujungnya ditali. Salah satu anak duduk di kain itu, kawan yang lain menariknya sambil tertawa.

Saya masuk di salah satu ruang. Di sana ada banyak orang, beberapa di antaranya merupakan penghuni lokasi tersebut. Kami berkenalan dengan mereka, menyebutkan nama, serta mendengarkan berbagai cerita mengenai hak-hak anak yang masih belum terpenuhi.

Umi Vitri, 33, penghuni di rusun Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo bekerja sebagai pengajar PAUD, guru mengaji, dan mentor les (Rangga Prasetya Aji Widodo/Volkpop)

Seperti cerita dari Umi Vitri, 33, penghuni di rusun Puspa Agro, Jemundo, Sidoarjo bekerja sebagai pengajar PAUD, guru mengaji, dan mentor les. Saat membagikan ilmu kepada murid-murid, ia sering dibantu salah satu anaknya yang sudah sarjana. Umi mengajar dengan suka rela di sana.

Setiap hari, ia mengajar PAUD pukul 8-10 pagi, libur pada hari Sabtu dan Minggu. Selesai mengajar murid-murid usia dini, Umi menjalankan rutinitas wajibnya sebagai ibu rumah tangga. Ia memiliki tujuh anak: empat anak sambung, serta tiga anak kandung.

Di ruang berukuran 5x6 meter persegi, istri peternak burung merpati itu mendidik 20-50 murid dari semua jam mengajar: 20 murid PAUD dan 35 murid TPQ, sebagian besar adalah anak-anak dari rusun itu sendiri. Umi mengisi kelas mengaji di hari Senin sampai Minggu, libur pada hari Jumat.

Ketika mengajar, Umi lebih sering memakai bahasa Indonesia. Kadang, ketika ada murid-murid yang tidak paham, ia bantu menjelaskan dengan bahasa Madura. Umi berharap anak didiknya kelak menjadi orang pintar dan lebih baik dari orang tua mereka.

"Anak-anak sekarang wajib pintar, agar tidak mudah dibodohi orang," kata Umi, "Intinya, saya ingin anak-anak bisa belajar yang rajin, agar nasibnya tidak seperti saya dan abahnya," kata Umi di salah satu bilik di rusun Puspa Agro yang disulap menjadi ruang kelas, Minggu (4/9/2022).

Perempuan paruh baya itu ingin anak asuhnya tidak ketinggalan mata pelajaran. Sehingga, setiap muridnya pulang dari sekolah, Umi mengajar ulang agar mereka tidak lupa dengan materi yang disampaikan guru selama belajar di kelas.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Potensi Badai Dahsyat Melanda Wilayah Jabodetabek

Kamis, 29 Desember 2022 | 15:18 WIB
X