• Minggu, 29 Mei 2022

Kisah Jurnalis Terkena Covid-19 yang Dibantu Media Tempatnya Bekerja hingga Sembuh

- Jumat, 14 Januari 2022 | 16:28 WIB
Ilustrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Jurnalis Selama Pandemi Covid-19 (Dicky Hanafi / Volkpop Media / Volkpop.co)
Ilustrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Jurnalis Selama Pandemi Covid-19 (Dicky Hanafi / Volkpop Media / Volkpop.co)

  • Arry Saputra, reporter JPNN, pernah tak berdaya sekadar untuk berjalan ke kamar mandi, nafasnya terasa ngos-ngosan, lemas dan sesak, apalagi melakukan peliputan di lapangan. Ia terkena Covid-19 pada bulan Juli 2021 dengan saturasi mencapai angka 80

VOLKPOP.CO - Pada hari Senin di pertengahan Juli 2021, seorang reporter JPNN bernama Arry Saputra bangun tidur dengan kondisi tubuh yang meriang. Beberapa bagian badannya terasa sakit. Ia pikir hanya sakit biasa, akibat semalam terlalu penat melakukan peliputan di lapangan.

Kebetulan pada hari Jumat, tiga hari sebelumnya, kedua orang tua Arry terlebih dahulu merasakan gejala yang sama; yaitu meriang, lemas, dan terasa sakit di sekujur tubuh. Setelah disadari, ternyata Ia tertular sakit serupa dari kedua orang tuanya.

“Selama tiga hari, sekeluarga sakit. Kami mencoba periksa ke klinik terdekat, karena [apabila periksa] ke Puskesmas kondisinya sudah tidak memungkinkan, pasti ramai dan antre,” kata Arry kepada Volkpop Media, Senin 10 Januari 2022.

Selepas itu, Arry berkata pada dokter klinik bahwa Ia ingin melakukan swab test, karena merasakan gejala seperti Covid-19; sesuai yang diberitakan banyak media. Akan tetapi, nahasnya, dokter tidak memperbolehkan.

“Disarankan untuk suntik, lalu dikasih obat demam, dan obat pusing pada umumnya [tidak ada siasat dokter klinik yang mengarah pada paparan Covid-19],” tuturnya.

Setelah berobat dari klinik tersebut, Arry sekeluarga pulang ke rumah. Namun, cairan injeksi, obat deman, dan obat pusing yang disarankan dokter klinik tak membantu kesembuhan Arry. Kondisinya justru semakin memburuk seiring bertambahnya hari.

Seakan bersamaan, Ia juga tak bisa makan makanan berasa manis dan asin, beberapa kali muntah. Walakin, Arry tidak merasakan anosmia, Ia masih bisa mencium aroma-aroma di sekeliling yang masuk melalui hidungnya.

“Enam hari kemudian, kondisi semakin memburuk lagi. Saya sekeluarga kembali ke klinik untuk melakukan swab test, ternyata hanya diberi obat lagi [dokter klinik tersebut],” ujarnya yang tampak heran.

Tidak menunggu lama, Arry melakukan cek saturasi oksigen. Hasilnya memburuk di angka 80 persen. Nafasnya terasa berat dan sesak, untuk berjalan saja perlu energi ekstra agar bisa bernafas.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Film Kukira Kau Rumah, Lekat Isu Kesehatan Mental

Sabtu, 5 Februari 2022 | 19:07 WIB

Heboh Pelecahan Seksual oleh Guru Tari di Malang

Selasa, 25 Januari 2022 | 16:51 WIB

Terpopuler

X