• Senin, 28 November 2022

Tetap Jadi JOMO di Era Gempuran Manusia FOMO

- Sabtu, 19 November 2022 | 11:26 WIB
Menjadi Bahagia Dengan Hidup Sebagai Manusia JOMO (Freepik @cookie_studio)
Menjadi Bahagia Dengan Hidup Sebagai Manusia JOMO (Freepik @cookie_studio)

 

VOLKPOP.CO – Sosial media kini sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia. Berlomba-lomba untuk menjadi orang yang paling up to date, seolah memberi tahu dunia tentang eksistensi mereka di platform digital.

Tanpa sadar, muncul rasa takut akan tertinggal hal yang sedang terjadi di sosial media sekarang. Rasa takut ketinggalan inilah yang disebut dengan FOMO atau fear of missing out. Banyak orang yang sudah menjadi korban dari FOMO. Maka dari itu, munculah istilah baru yang sedang digaungkan saat ini, yaitu JOMO.

Dilansir dari laman Psychology Today, JOMO atau joy of missing out, disebut sebagai obat bagi mereka yang tengah mengalami FOMO. JOMO adalah istilah yang menggambarkan tentang kepuasan akan kondisi diri saat ini, dan bahagia karna menjadi diri sendiri.

Baca Juga: Simak Tipe-tipenya, Pengaruh Besar MBTI bagi Kepribadian Seseorang

JOMO sendiri sangat identik dengan sikap yang tenang, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, mulai untuk dapat berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak disukai. Selain itu, menjadi JOMO juga dapat membuat seseorang untuk dapat beristirahat dari hiruk pikuknya kehidupan sosial media, sehingga memiliki banyak waktu untuk menikmati banyak hal.

Perbedaan antara JOMO dan FOMO terletak pada respon otak ketika menangkap suatu hal yang jauh diatas diri. Mereka yang mengalami FOMO, akan merespon hal tersebut sebagai bentuk ancaman dan bentuk perbandingan diri. Maka dari itu, mereka mulai bertindak untuk dapat menjadi seperti yang oranglain tunjukan atau bahkan lebih. Pada akhirnya, menyebabkan mereka tampil menjadi oranglain, bukan diri sendiri.

Baca Juga: 'Cermin Diri' sebagai Salah Satu Faktor Pembentuk Kepribadian Manusia

Sedangkan mereka yang JOMO biasanya akan lebih tenang dalam merespon, tidak menjadikan hal tersebut sebagai ancaman atau bahan perbandingan diri, tetapi menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik versi diri mereka sendiri.

Halaman:

Editor: Yoni Prawardayana

Sumber: Psychology Today

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bekunjung ke Madura? Yuk Cobain 5 Makanan Ini

Jumat, 25 November 2022 | 20:55 WIB

Cosplay, Ajang Unjuk Diri dalam Balutan Kostum Unik

Jumat, 25 November 2022 | 18:35 WIB

Uniqlo Hadirkan T-Shirt "Spy X Family" Vol. 2

Jumat, 25 November 2022 | 15:36 WIB

Jadwal dan Daftar Nominasi The Game Awards 2022

Jumat, 25 November 2022 | 09:01 WIB

Hype Banget, Ini Rekomendasi AU NCT yang Wajib Kamu Baca

Selasa, 22 November 2022 | 13:27 WIB
X