Quiet Quitting: Apa yang Salah dari Bekerja Sesuai JobDesc dan OnTime?

- Kamis, 10 November 2022 | 19:13 WIB
Bekerja (Pexels)
Bekerja (Pexels)

Penulis: Rifki Iqbal Nizar Zidan*

Beberapa waktu lalu sosial media diramaikan dengan istilah Quiet Quitting. Istilah ini sebenarnya sudah ada sejak dulu namun memiliki nama yang berbeda, yaitu Work To Rule

VOLKPOP.CO - Quiet Quitting sendiri merupakan sikap para pekerja dimana mereka berhenti melakukan sesuatu yang ekstra dengan pekerjaannya, seperti tidak melakukan kerja lembur yang berlebihan dan tidak dibayar. Istilah-istilah tersebut muncul karena beberapa orang merasa ketidakseimbangan antara waktu bekerja dengan kehidupan mereka. Ketidakseimbangan ini membuat Kesehatan mental mereka juga turut terpengaruh.

Work Life Balance menjadi hal dibutuhkan para pekerja saat ini. Di kala Bos mereka menginginkan pekerjaan esktra dengan embel-embel menjadi karyawan teladan, sayangnya beberapa karyawan tidak dibayar atau hanya diberi apresiasi berupa ucapan selamat.

Dilansir dari website fk.uc.ac.id Penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Program Studi Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (MKK FKUI) menunjukkan fakta bahwa sebanyak 83% tenaga kesehatan di Indonesia telah mengalami burnout syndrome derajat sedang dan berat yang secara psikologis sudah berisiko mengganggu kualitas hidup dan produktivitas kerja dalam pelayanan kesehatan.

Kasus diatas merupakan bagaimana tekanan serta jam kerja tinggi dapat memepngaruhi Kesehatan mental para petugas. Bekerja secara berlebihan sebanrnya sah – sah saja bagi para pekerja, namun hal ini juga dapat menyebabkan efek jangka panjang pada kinerja setiap orang. Karyawan yang merasakan depresi tidak akan lagi berkompeten seperti saat pertama kali ia bekerja, dan tentu saja akan berdampak buruk pada instansi.

Saya sendiri sudah pernah merasakan tekanan saat bekerja pada salah satu perusahaan, hanya saja quiet quitting yang saya coba lakukan tidak dapat terealisasi dengan baik akibat dari peraturan perusahaan yang bagi saya cukup ketat.

Kontrak memang menyebutkan bahwa karyawan akan bekerja selama 8 jam sehari. Sayangnya apa yang terjadi di lapangan cukup berbeda, semua karyawan akan bekerja selama setidaknya lebih dari 8 jam dengan alas an untuk mencapai target penjualan.

Dengan alasan dikejar oleh waktu, pihak manager memerintahkan kami untuk melakukan meeting di atas pukul 10 malam kala itu. Meeting yang berjalan juga cukup lama karena mengumpulkan semua karyawan yang tersebar di Surabaya, sehingga meeting selesai pada pukul set 2 dan esoknya saya harus masuk pagi pada pukul 9. Karena tekanan yang saya rasa cukup besar, saya merasa depresi hingga akhirnya memutuskan untuk resigne kala itu.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X