Sebuah Perenungan tentang Toleransi: Kesadaran atau Terpaksa?

- Rabu, 2 November 2022 | 16:55 WIB
Sebuah ilustrasi dari sikap toleransi antar manusia (Pexels)
Sebuah ilustrasi dari sikap toleransi antar manusia (Pexels)

Penulis: Rifki Iqbal Nizar Zidan*

Bhineka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa Indonesia yang berarti "aneka ragam" atau "berbeda-beda". Semboyan itu memiliki tujuan, yang mana, perbedaan mulai dari ras, agama, suku, budaya, bahasa, kepercayaan, dan sebagainya; tetap bersatu, setidaknya itulah mimpi bangsa Indonesia sendiri

VOLKPOP.CO - SUDAH bukan menjadi rahasia umum lagi, apabila toleransi di Indonesia memang ditegakkan. Kendati seperti itu masih banyak permasalahan toleransi di Indonesia, utopia akan keberagaman yang menjadi satu, masih menjadi mimpi yang sulit tercapai bagi beberapa orang. Beberapa konflik masih sering terjadi antarpribadi, golongan, maupun kelompok masyarakat.

Misalkan saja, ramadhan merupakan bulan suci bagi umat Islam, di bulan itu umat Islam akan berpuasa penuh selama satu bulan. Dalam satu bulan tersebut -biasanya- akan diberlakukan peraturan: toko atau warung penjual makanan tidak boleh beroperasi sebelum menjelang buka puasa atau menjelang maghrib.

Meskipun MUI akhirnya memutuskan untuk memperbolehkan warung makan untuk tetap berjualan dengan syarat tidak memamerkan makanannya, masih ada beberapa stigma masyarakat yang masih tidak setuju dengan keputusan itu. Jika warung makan ditutup tirai, bukankah berarti toleransi tidak berjalan 100%?

Ketika membuka social media Instagram, saya tidak sengaja melihat kiriman, salah satu aktor memposting makanan di story Instagram miliknya. Banyak dari masyarakat yang menyayangkan hal itu, lantaran ia memposting saat jam puasa berlangsung. Meskipun ia bukan seorang muslim, tetap saja netizen menyayangkan hal tersebut dengan embel-embel "toleransi".

Memang benar memamerkan makanan adalah suatu tindakan yang tidak mencerminkan toleransi antar umat beragama, namun aktor tersebut tidak bermaksud demikian. Ia pun merasa, apabila hak dalam menggunakan media sosial dibatasi oleh netizen.

Menurut saya, mengapa aktor tersebut yang harus toleransi, bahkan dia tidak bermaksud untuk memamerkan hal itu. Mengapa bukan kita saja sebagai masyarakat muslim yang harus toleransi dengan membiarkannya, agar ia menikmati (makanan) untuk diri sendiri.

Pembangunan tempat ibadah

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X