Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

- Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB
Catatan Kolom oleh Rizal Adhi Pratama (Volkpop)
Catatan Kolom oleh Rizal Adhi Pratama (Volkpop)

VOLKPOP.CO - Sebelas hari sudah berlalu sejak Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 yang merenggut setidaknya 132 korban jiwa. Masih tergambar jelas di kepala saya bagaimana bencana itu terjadi.

Sekarang hidup berjalan kembali, hari-hari berlanjut sekali lagi. Tapi hari tak lagi sama bagi mereka yang ditinggalkan, bahkan hidup tak lagi sama bagi saya sendiri.

Selama 3 tahun menjadi jurnalis, tidak pernah saya menyangka akan menjadi saksi tragedi sepakbola terburuk nomor 2 di dunia. Batin saya tidak pernah siap bagaimana pertandingan yang seharusnya menyenangkan entah hasilnya akan menang atau kalah, sepakbola adalah entertainment, begitu menurut saya sampai detik ini.

Polri Klaim Gas Air Mata Tidak Mematikan atas Tragedi Kanjuruhan (Dicky/ Volkpop.co)

Sepanjang saya hidup, saya tidak pernah menyaksikan orang asing meninggal di depan mata saya. Bahkan dalam bencana Gempa Malang pada 2021 lalu saya sanggup bertahan menjadi pewarta yang 24 jam menyiarkan informasi terkini. Tapi mungkin karena jumlah korban tidak separah ini, ada 10 orang meninggal, dan saya tidak melihat secara langsung para korban meninggal.

Tapi dalam tragedi ini, saya melihat secara langsung ratusan orang sekarat, ratusan orang tewas. Saya bahkan menyaksikan secara langsung detik-detik terakhir hidup seorang manusia dalam 2 hembusan nafasnya. Saya sanpai sekarang tidak tahu siapa namanya, alamatnya, ataupun di mana kuburannya sekarang, tapi wajahnya saat meninggalkan dunia ini masih tergambar jelas di memori otak saya.

Masih jelas di di ingatan saya ratusan orang tergeletak di berbagai sudut stadion. Lautan manusia ini tidak sedang menyuarakan protes karena timnya kalah, mereka tengah berjuang untuk bernafas, mereka tengah berjuang menghirup partikel-partikel oksigen bercampur asap memekakkan.

Baca Juga: Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Saya kecewa, saya frustasi, saya benar-benar marah. Saya tidak bisa melakukan apapun saat itu, saya hampir gila selama seminggu ini. Telinga saya selalu memutar rekaman teriakan para korban setiap ingin memejamkan mata di tengah malam.

Halaman:

Editor: Rizal Adhi Pratama

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X