Catatan Harian: Bahas School Burnout yang Dialami Remaja SMP Jaman Now

- Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:14 WIB
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)

VOLKPOP.CO - BURNOUT yang dialami remaja, kata Dian R. Zuhdiyati, disebut dengan school burnout. Gejala psikologis yang disebabkan adanya stress terkait dengan sekolah dan pencapaian prestasi mereka. "Memang remaja memerlukan situasi untuk melepaskan penat berkaitan dengan akademik," tutur psikolog Luhus Consultant tersebut.

Namun, imbuh Dian, situasi pelepasan penat itu tidak harus berbentuk liburan. Kegiatan seperti rehat sejenak, tidur, makan, bercengkerama dengan teman juga termasuk. "Intinya, melakukan hal yang berbeda dengan rutinitas, tapi dapat memberi arti lebih besar," jelasnya.

Adapula kecenderungan remaja Sekolah Menengah Pertama (SMP), usia 12-14 tahun, yang memberi jarak pada kegiatan sekolah. Lantas, mereka menjadikan burnout sebagai alasan. Dian menegaskan fenomena tersebut dikembalikan pada pribadi masing-masing remaja.

"Bisa dipengaruhi banyak hal. Misalnya, kepribadian remaja dan orang tua, pengasuhan mereka, lingkungan sekolah, pertemanan, proses belajarnya juga, budaya sekitar, contoh yang dilihat sehari-hari, dan tidak lupa pengaruh dari media sosial," tegasnya.

Mengenai sudut pandang masyarakat pada remaja yang burnout, ada banyak tanggapan. Misalnya, dalam sudut pandang positif masyarakat mengamati burnout sebagai upaya meningkatkan kepercayaan diri remaja terhadap kemampuannya masing-masing.

Bisa juga, kata Dian, burnout dimaknai sebagai upaya meningkatkan rasa hati-hati terhadap pengaruh buruk yang bisa mempengaruhi remaja tersebut. "Mereka kemudian (belajar, Red) mengenai situasi yang tidak hanya disikapi dengan satu sudut pandang, namun dari beberapa sudut pandang," katanya.

Cara berpikir seperti itu, kata Dian, akan mengurangi school burnout pada remaja. Karena, pencapaian dan prestasi bukan yang utama pada proses pembelajaran remaja. Banyak persepktif baik yang bisa dipakai untuk memaknai school burnout.

Mengenai perbedaan psikologis antara istilah burnout, self reward, serta keinginan berlibur remaja akibat bosan atau penat, kata Dian, bisa dipandang dari beberapa pengertian.

"Self reward, remaja yang menargetkan pencapaian tertentu. Kemudian memberikan reward (penghargaan, Red) pada diri sendiri. Karena, biasanya reward didapatkan setelah mencapai target," tutur psikolog kelahiran Januari 1985 tersebut.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X