Catatan Harian: Sibling Rivalry, Sebuah Kondisi Cemburu Antara Adik dan Kakak

- Minggu, 2 Oktober 2022 | 01:33 WIB
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)

VOLKPOP.CO - BUKAN mengenai jarak kelahiran antar anak yang dekat atau jauh, namun yang bisa menimbulkan rasa cemburu antara adik dan kakak bergantung dari perlakuan orang tua kepada mereka.

"Anak yang hadir lebih awal akan merasa kehilangan waktu, karena kedatangan adik baru. Perhatian orang tua jadi terbagi. Tadinya, dia kan satu-satunya pusat perhatian orang tuanya," kata Astrid Regina Sapiie, Psikolog Klinis.

Apabila orang tua memperlakukan anak dengan baik, bersikap hangat, penuh kasih, dan tidak terlalu lekat. Maka, anak itu akan lebih mudah beradaptasi dengan kehadiran adiknya. Proses berbagi perhatian orang tua bisa berjalan mulus.

Tetapi, jika kelekatan anak dengan orang tuanya terlalu tinggi, maka kehadiran adik baru akan membuat anak merasa kehilangan rasa amannya. "Ikatan satu-satunya dengan orang tua harus dibagi dengan adik baru. Anak merasa ditolak dan dipaksa menerima kehadiran adiknya," tuturnya.

Kecemburuan bersumber dari rasa memiliki. Anak yang awalnya sendirian, merasa orang tua sebagai milik pribadi. Sehingga, orang tua harus bijaksana dalam memperlakukan anak ketika adiknya lahir. 

Anak bisa dipersiapkan menerima kehadiran adik baru, sejak ibu hamil. Dilibatkan dalam semua persiapan. Dibacakan cerita, nonton film, dan berbagai hal untuk memperkenalkan konsep indahnya punya saudara kandung. "Sehingga anak juga antusias menyambut kehadiran adiknya," imbuh perempuan kelahiran Oktober 1958 itu.

Teori psikologi yang berkaitan dengan fenomena itu disebut sibling rivalry atau persaingan antar saudara. Perilaku anak yang cemburu karena kehadiran adik baru akan tampak pada perubahan perilaku emosinya.

"Kakak menjadi sangat aktif secara emosional. Cepat marah, tersinggung, sampai teriak, atau guling-guling dalam menanggapi masalah yang sepele. Misalnya, ingin dibuatkan roti pakai selai strowberry," jelasnya.

Atau justru anak akan menarik diri. Pasif, diam, lesu, tidak bergairah, menghindar dari berbagai kegiatan, mungkin hanya tiduran terus dengan mata terbuka.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X