• Senin, 28 November 2022

Catatan Harian: Upaya Memaknai Tulisan dan Hasil Liputan sebagai Barang Jualan

- Selasa, 20 September 2022 | 15:41 WIB
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)

 

VOLKPOP.CO - ADA satu diksi dari Evi Mariani yang bagiku menarik dan jarang dipakai jurnalis pada umumnya. Dia sempat menyebut bahwa tulisan-tulisan, konten, atau hasil peliputan yang diunggah di Project Multatuli dan/atau Jakarta Post sebagai "jualan". Sebutan itu sering aku temukan di akun Twitter pribadinya @evimsofian yang memiliki 12.700 ribu pengikut.

Diksi itu -pikirku- tampak tepat, bergairah, dan terbuka. Ketiga kata itu ada maknanya. Aku sebut "tepat" karena karya jurnalistik yang dikerjakan pewarta selalu berupaya ditulis sebaik mungkin untuk pembaca; bak penjual makanan pasti ingin meracik dagangan mereka dengan kualitas terbaik agar laris dan dipercaya pembeli. Hal yang sama diposisikan oleh Evi Mariani.

Lalu, menjadi "bergairah" karena ada yang bakal didapatkan oleh wartawan selain apresiasi dan/atau tepuk tangan, ketika produk jurnalistiknya selesai dikerjakan. Apalagi yang ditunggu kalau bukan cuan, duit, atau bayaran. Kita tak perlu munafik bahwa semua orang memang butuh uang, termasuk jurnalis. Sesuai dengan diksi yang dipakai di setiap cuitan Twitternya, membawa kesadaran bahwa tulisan-tulisan itu memiliki harga jual/nilai tawar.

Kemudian aku sebut "terbuka", karena diksi yang dipakai Evi Mariani bagian dari ejawantahan kesadaran jurnalis bahwa perusahaan media juga bagian dari bisnis. Sehingga, memahami karya jurnalistik sebagai dagangan membuat kita sadar posisi dan batas-batas kita sebagai wartawan. Karena, acapkali bagian redaksi dan manajemen perlu dibatasi dengan tegas; agar tidak tercampur dan sulit dibedakan seperti kata Bill Kovach.

Saat ini, aku coba memakai cara berpikir yang diterapkan Evi Mariani. Tulisan sebagai jualan. Efeknya bagus, karena aku merasa tulisan-tulisan semacam ini bakal tidak berujung di "tempat sampah" saja; ada harapan baru, bisa saja satu-dua media membaca dan tertarik melibatkan aku dalam project tertentu. Kendati agak mustahil, tapi kita berpikiran secara potensi saja, namanya juga jualan.

Namun, memahami tulisan sebagai barang niaga saja tidak cukup. Bila hal itu yang diterapkan, kita tak beda jauh dengan media-media pengejar klik, page views, atau traffic portal berita. Kemudian banyak tulisan-tulisan sampah yang hanya menghamba pada SEO dan iklan dari Google, mgid, dan sejenisnya. Faktor ini banyak menciptakan iklim "yellow jurnalism".

Evi Mariani menyadari masalah itu. Sehingga, dia menemukan fungsi pokok jurnalistik yang kemudian muncul istilah menarik lainnya yaitu "public jurnalism". Kita tetap memastikan bahwa tulisan-tulisan itu dapat mewakili keresahan rakyat dan berdampak pada perbaikan kebijakan pemerintah; tak sekadar dianggap dagangan saja. Kita berjalan efektif, dua kaki tapi tak bertentangan dengan nilai-nilai yang dibawa.

Bila diteruskan, jurnalistik yang bermanfaat dapat memberi efek positif untuk masyarakat. Keterlibatan publik tidak hanya dalam menaikkan isu-isu yang tak terbaca media arus utama, melainkan untuk mendorong adanya perbaikan dari pemerintah terkait lokasi isu-isu yang sedang bermasalah itu. Mereka yang ingin berpartisipasi dalam siklus public jurnalism ini kemudian disediakan ruang bernama "Kawan M".

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X