• Senin, 28 November 2022

Catatan Harian: Membahas Banjir dan Pendataan Bangunan Kosong di Kota Surabaya

- Minggu, 18 September 2022 | 10:26 WIB
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)

VOLKPOP.CO - BANGUNAN Kafe Komunitas tampak minimalis, didominasi warna coklat, putih, dan hitam. Bagian depan dipakai tempat parkir sepeda motor, lokasinya tidak jauh dari Kebun Bibit Bratang, Jalan Ngagel Jaya. Kafe itu terlihat kekinian, menu kopinya beragam, tapi aku ingin mencoba matcha hangat, harganya sekitar Rp17 ribu per cangkir.

Setelah pertemuan pertamaku dengan Biber di Kolokial Genteng Kali, selang beberapa Minggu kemudian ia mengirim surat undangan dari Arsitek Komunitas (Arkom) Jawa Timur untuk datang ke forum diskusi hasil survei pencemaran sampah, titik banjir, dan tata ruang kota di Surabaya, seperti di kampung dampingan mereka; Dupak Magersari dan Donorejo Wetan.

Pada 1 April 2022, pukul 19.00 WIB, aku datang ke undangan itu. Forumnya digelar di lantai dua Kafe Komunitas, di sana ada bilik kecil untuk mengobrol yang muat 2-4 orang, dan ada satu bilik besar lengkap dengan tribun kecil, proyektor, papan tulis, sound system, serta meja-meja untuk meletakkan barang hingga makanan. Ruangan utama tersebut muat hampir 20 orang.

Suhu di bilik besar dingin sekali. Ada banyak komunitas dan pegiat-pegiat kota yang datang di forum tersebut, seperti Arkom Jawa Timur, WALHI Jawa Timur, Aliansi Literasi Surabaya, OHS, pers mahasiswa, AJI Surabaya, Sanggar Merah Merdeka, FDTS, Halo Ijo, dan lain-lain, aku tidak hafal semuanya. Tampaknya, ada pegiat seni dan akademisi kampus pula yang datang menyertai.

Kami memperkenalkan diri, seperti nama dan asal komunitas, organisasi, atau lembaga. Forum itu menjadi pertemuan pertamaku dengan Arkom Jawa Timur dan pegiat-pegiat kota di Surabaya; kebanyakan dari mereka fokus di isu-isu lingkungan, mengingat Arkom Jawa Timur sebagai tuan rumah juga berbasis kajian arsitektur, tata ruang kota, perubahan iklim, banjir, sampah, Kampung Pinggir Rel (Kapirel), dan sejenisnya.

Saat itu, aku datang tidak memakai delegasi apapun, hanya atas nama personal sebagai pegiat media di Surabaya. Aku memang demisioner PPMI, serta calon anggota AJI Surabaya, tapi aku tidak memakai nama keduanya untuk memperkenalkan diri. Arkom Jawa Timur kemudian memberi pemaparan hasil survei yang mereka dapatkan dari lapangan, khususnya di dua kampung yang mereka kawal.

Setelah pemaparan selesai, interaksi argumen dari masing-masing pegiat kota begitu basah. Ada yang menjelaskan secara teoritis tentang pencemaran, ada juga pegiat kota yang menyebutkan nama-nama tokoh lingkungan yang aku sendiri tidak paham itu siapa, karena di jurusan Psikologi tidak pernah diajarkan, tapi aku tetap menyimak dengan seksama.

Banyak narasi baru yang aku dengarkan dari mereka, aku coba rekam dan catat poin-poin obrolannya. Satu per satu pegiat saling menimpali, begitu seru diikuti, ada yang melemparkan ide-ide tentang rencana aksi lanjutan di hari jadi Kota Surabaya pada bulan Mei 2022. Kendati, kemudian rencana itu tidak berjalan dan terhenti.

Ada pula yang mengingatkan bahwa forum diskusi semacam ini perlu ada pengawalan, tindak lanjut, follow up, dan semacamnya. Agar tidak menguap sekadar jadi diskusi momentum, tapi memiliki dampak signifikan yang dihasilkan di masa depan. Entah berupa advokasi litigasi atau non-litigasi, tentang persoalan di kampung Surabaya.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X