• Senin, 28 November 2022

Catatan Harian: Bayi-bayi yang Lahir di Penjara dan Hidup dengan Narapidana Perempuan

- Jumat, 16 September 2022 | 20:53 WIB
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)

VOLKPOP.CO - RUANG sepetak itu berisi 15 narapidana perempuan. Beberapa dari mereka dalam kondisi hamil. Serta, sebagian lagi justru mempunyai bayi-bayi yang tinggal menjadi satu di ruangan. Bisa dibayangkan, betapa penat dan sesaknya ruang jeruji besi itu.

Suara bayi menangis bak bebunyian yang memenuhi seisi penjara. Bayi-bayi itu lahir tanpa bantuan dokter, semua proses persalinan diurus napi-napi itu sendiri. Tentu, dengan peralatan dan pengetahuan ala kadarnya.

Pertanyaan yang bakal terlintas di benak penonton Invisible Hopes ialah, "Bagaimana bisa Lamtiar Simonangkir mengambil video dokumenter itu? Bagaimana dia mendapat perizinan?" tanya salah satu penonton di CGV Marvell City Surabaya.

Memang tak dipungkiri. Lamtiar Simorangkir sebagai produser Invisible Hopes mengerjakan dengan beragam tantangan perizinan. "Film berdurasi 1 jam 40 menit itu memang sulit mendapat izin, awalnya. Tapi saya mencoba keliling menemui orang-orang yang bisa membantu agar dapat mengerjakan film itu," kata perempuan berkacamata tersebut.

Dimulai tahun 2017, ketika Lamtiar melakukan 'screening' karya film sebelumnya. Ada salah satu rekannya yang bertanya, "Apakah kamu tahu, ada anak yang lahir di dalam penjara?" ujarnya menirukan pertanyaan kerabat.

Lamtiar kaget dan baru mendengar kabar soal itu. Dia bergegas mencari data dan menemukan kota dengan jumlah tahanan perempuan terbanyak di Indonesia. Lamtiar menemukan Medan. Namun, bila ke Medan, biaya yang diperlukan banyak.

Lantas, dia memilih Jakarta dan Bandung sebagai lokasi pengambilan gambar. Lamtiar memilih Rutan Pondok Bambu di Jakarta Timur, agar biaya pengerjaaan film dapat diminimalisir.

"Jadi, 'shooting'-nya ada dua penjara di Jakarta dan dua penjara di Bandung. Untuk kepentingan 'story'. Seolah-olah nonton film naratif, sehingga perlu memilih tokoh yang bisa membawa cerita dari awal sampai akhir," tegas perempuan berbaju putih itu.

Setelah Lamtiar menelusuri di internet, ternyata belum ada film yang mengangkat isu-isu demikian. Lalu, karena dia pegiat 'film maker', merasa perlu mengangkat isu itu menjadi film yang pertama kali. "Saya cuma terbayang satu; masa kecil saya bisa bermain, tapi mereka ada di dalam jeruji besi," tuturnya.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X