• Senin, 28 November 2022

Catatan Harian: Sebuah Cerita dari Terowongan Botol Plastik di Tanah Senja Jombang

- Kamis, 15 September 2022 | 16:34 WIB
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)

VOLKPOP.CO - KEPALA masih terasa pusing. Minibus kami tak kunjung sampai di lokasi, perjalanan begitu lama. Prediksi awal, perjalanan kami memakan waktu dua jam, tapi hingga mendekati pukul 09.00 pagi belum ada tanda-tanda keberadaan kaki Gunung Anjasmoro. Aku menyiapkan kantong plastik hitam untuk berjaga-jaga, apabila perut mendadak mual.

Apalagi, rute yang kami lewati ketika masuk wilayah Jombang lumayan berkelok-kelok. Getaran bagian dalam mobil saat melindas jalan berlubang bikin kepala makin pening, ditambah aroma Air Conditioner minibus yang begitu menjemukan. Tapi, pemandangan di luar jendela mobil terlihat indah: ada sawah-sawah, bukit, sedangkan yang agak jauh lagi tampak seperti gunung menjulang. Apakah itu kaki Gunung Anjasmoro yang akan kami kunjungi? Aku tidak tahu.

Sayang, pemandangan yang indah itu belum bisa aku nikmati dengan tenang. Mabuk perjalanan sedikit mengganggu konsentrasi. Sesekali rute menanjak membuat minibus terasa berat, lalu tiba-tiba melandai hingga perlu siaga menekan pedal rem. Perut terasa makin mual, aku memilih memejamkan mata di perjalanan, selagi belum sampai.

Lalu, mas Fully yang duduk di bagian depan samping supir, melemparkan pertanyaan kepada kami. "Kalian pesan makanan apa? Coba disebutin, makan dan minumnya," tuturnya, sambil mengontak salah satu tim Ecoton yang sudah sampai di lokasi ekspedisi.

Aku memesan nasi goreng dan es teh, pikirku meminum es akan melegakan tenggorokan dan mengurangi pening akibat mabuk perjalanan. Pesananku sengaja sama seperti menu yang ditulis mas Andre. Aku tak mau ribet, kepala sudah pusing, perut terasa dikocok, sampai lokasi yang penting bisa makan untuk recharge energi yang terkuras selama di dalam minibus.

"Iki arek-arek luwe, durung mangan. Titip peseno mangan sekalian yo, tak kirim list pesenane [ini teman-teman lapar, belum makan. Titip pesankan makan sekalian ya, aku kirim list pesanannya]," ujar mas Fully menjawab suara salah satu orang di ujung telepon. “15 menit lagi, sampai lokasi," imbuhnya.

Udara segar mulai merasuk di sela-sela kulit dan hidung. Perjalanan kami terasa menuju dataran yang agak tinggi: kaki Gunung Anjasmoro, Wonosalam, Jombang. Sehingga suhu udara jadi dingin, kendati tidak sedingin suhu malam hari ketika bermalam di Malang, Batu, atau Puncak. Tidak sedingin pula saat Kota Surabaya didera hujan es batu seukuran kerikil.

Tepat sekira pukul 09.15 pagi, kami sampai di lokasi. Di sana, sudah berdiri mas Aziz yang menunggu kedatangan minibus kami. Dan, ada pula beberapa tim Ecoton lainnya. Tak menunggu lama, aku turun dari minibus, bergegas mencari tempat untuk menuangkan isi perut yang sejak tadi terasa mual.

Aku muntah. Aroma cairan yang keluar seperti bau-bau jeruk. Ternyata, aku baru ingat, cairan itu merupakan minuman sari-sari jeruk Florida yang aku beli di Circle K sebelum berangkat ke Wonosalam. Namun, tak banyak makanan yang keluar dari perut, untung hanya sebatas cairan minuman itu, jadi tak kehabisan banyak nutrisi makanan.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X