• Senin, 28 November 2022

Catatan Harian: Membayangkan Permakultur dan Secuil Ambisi Hidup Tenang di Pedesaan

- Minggu, 11 September 2022 | 18:23 WIB
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)
Catatan Harian: Rangga Prasetya Aji Widodo (Dicky Hanafi/Volkpop)

VOLKPOP.CO - SORE itu, 15 Maret 2022, aku dan Alvina Koordinator Amnesti Indonesia Chapter Universitas Jember (Unej) berencana bertemu di Lokalisasi Kopi Kolokial, Jalan Genteng Kali Surabaya. Sudah ada sebulan dia tinggal indekos di sini untuk menggali data di Pupuk Kaltim Regional Jawa Timur demi keperluan skripsinya di semester 10–11. Katanya, sekitar pukul 18.00 malam Wahyu Eka Setiawan atau Biber bakal ikut nongkrong dengan kami; artinya, momen itu menjadi pertemuan pertamaku dengan Biber.

Sebetulnya, Kolokial di Jalan Genteng Kali memiliki tata ruang yang tidak seberapa besar, bangunannya mirip ruko tingkat dua; lantai satu dipakai tempat kopi, lantai dua dipakai kantor hukum. Berbeda dengan Kolokial di Jalan Karimata yang relatif memiliki halaman luas, dipenuhi kursi dan meja berjajar estetik yang terbuat dari semen. Bagian dalam Kolokial Karimata pun ada ruang-ruang kekinian yang enak dipakai mengobrol ringan sekitar 2–4 orang. Harga menunya ada perbedaan, selisih Rp2–4 ribu lebih mahal di Kolokial Karimata, mungkin karena segmen pasar ada di tengah kota.

Karena halaman Kolokial Karimata yang luas, justru potensi untuk menampung pembeli menjadi lebih banyak. Sehingga akumulasi obrolan antar meja dapat menciptakan suasana yang berisik, noise, mungkin beberapa orang masih nyaman dengan suasana itu, tapi aku pikir Kolokial Karimata tidak support bila dipakai diskusi topik-topik serius dengan 2–4 orang. Hanya cocok dipakai mengobrol hal-hal keseharian, bergurau, kencan, dan tanpa urgensi yang berarti.

Justru itulah yang menjadi kelebihan Kolokial Genteng Kali, memang tata ruang yang disediakan tidak memadai, hanya ada kursi dan meja portable yang bisa bongkar pasang, ditata di mana saja sepanjang trotoar yang membentuk sudut 90 derajat itu. Kolokial Genteng Kali aku pilih sebagai tempat berbincang topik-topik serius dengan Alvina. Tentang lingkungan, buku-buku, jurnalistik, pelecehan seksual, masa depan, atau sekadar diskusi konsep menggambar ilustrasi kasus MSAT.

Kadang kami bercerita tentang beberapa orang; seperti mas Wahyu yang sekarang sibuk menjadi jurnalis di Kabar Trenggalek, pacar Alvina yang merupakan polisi dan sempat bertugas di Polda Jawa Timur, atau mengenai kawan kami yang bernama Irsyad dari BP Jaringan Kerja (Jarker) PPMI Nasional periode 2020–2021. Bagi kami Irsyad sosok menarik, karena tidak terlalu aktif di media sosial, sering bekeliling dan naik gunung sendirian, serta gemar membersamai warga yang tinggal di pelosok.

Kami suka membahas masa depan. Aku bercerita ke Alvina bahwa ingin tinggal di desa, membuka warung makan sederhana, bercocok tanam di sawah atau kebun, dan menafkahi anak-istri dengan tenang. Aku merasa penat tinggal di kota metropolitan seperti Surabaya, memang akses untuk mencukupi kebutuhan begitu dimudahkan, mencari apapun dekat, akan tetapi aku masih tidak menemukan ketenangan batin. Terlalu bising, padat, dan pelik.

Impianku untuk menerapkan cara hidup permakultur di pedesaan sempat aku ceritakan ke Alvina. Merawat lahan kecil, aku tanami sayur seperti bayam, kangkung, hingga kemangi. Atau aku tanami daun kelor yang bisa dimanfaatkan untuk sayur bening. Bahan-bahan pokok dapur dan buah-buahan seperti lombok, singkong, pisang, jeruk nipis, hingga tomat. Aku ingin membikin siklus hidup sustainbility dengan melibatkan peran alam dan lepas dari persaingan hidup, tuntutan sejahtera, dan kompetisi karir di kota.

Alvina juga memikirkan hal yang sama. Dia pun ingin bertani dan hidup tentram di desa, tapi aku pikir, semua sumber daya di Trenggalek sudah dia miliki untuk membikin permakultur. Dia punya rumah dengan halaman luas, kebun-kebun, letak tempat tinggal yang sejuk, dekat dengan perbukitan. Berbeda dengan aku yang belum memiliki sumber daya sama sekali bahkan di kota lahirku sendiri, sehingga perlu usaha lebih untuk mencapai cara hidup permakultur semacam itu.

Ketika Mukernas PPMI Nasional di Jogjakarta sekian bulan lalu, dia sempat berkunjung ke Bumi Langit milik pak Iskandar. Sebuah lokasi yang jadi rujukan untuk belajar permakultur di Indonesia, di sana ada tempat/mesin khusus untuk mengelola kotoran sapi menjadi pupuk kompos hingga bahan bakar memasak pengganti LPG. Siklus hidup alami di sana sudah berputar dengan baik, “Mereka harus memastikan makanan yang mereka konsumsi punya asal-usul yang baik,” kata Alvina.

Halaman:

Editor: Rangga Prasetya Aji Widodo

Artikel Terkait

Terkini

Menjelajahi Culture shock Non Kpopers Tentang KPOP

Sabtu, 19 November 2022 | 18:40 WIB

Pengalaman Iseng Hubungi Layanan Berhenti Merokok

Selasa, 18 Oktober 2022 | 15:29 WIB

Pecahan Trauma yang Tak akan Pernah Hilang

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Malam Minggu Derita di Stadion Kanjuruhan Malang

Selasa, 4 Oktober 2022 | 10:49 WIB
X