Meresahkan Dunia, Mari Kupas Tuntas Awal Mula Penyebab Konflik Rusia vs Ukraina

- Sabtu, 26 November 2022 | 15:02 WIB
Bendera Rusia dan Ukraina (Pinterest @creativemarket)
Bendera Rusia dan Ukraina (Pinterest @creativemarket)
 
 
VOLKPOP.CO – Sudah sembilan bulan lamanya perang antara Rusia dan Ukraina masih belum berakhir juga. Perang ini dimulai oleh Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (24/2/2022) Putin memerintahkan pasukan militernya untuk meluncurkan serangan berskala penuh ke Ukraina. Lantas apa awal mula konflik yang menyebabkan perang ini terjadi?
 
Untuk mengetahui awal mula konflik Rusia dan Ukraina, kita harus melihat jauh ke belakang. Pada tahun 2021, Putin menerbitkan sebuah paper yang berisikan bahwa Rusia dan Ukraina berasal dari akar kebudayaan yang sama yaitu bangsa Slavia, ditambah lagi kedua negara tersebut pernah tergabung ke dalam negara yang sama yaitu Uni Soviet. 
 
Setelah perang dunia kedua pada tahun 1940-an, karena Uni Soviet terlihat seperti negara raksasa ini membuat negara-negara barat takut dan memutuskan untuk bersatu membuat kelompok militer raksasa untuk keamanan bersama anggotanya pada tahun 1949 yang diberi nama NATO (North Atlantic Treaty Organization). Setelah terbentuknya NATO, terjadilah perang dingin antara Uni Soviet dan NATO. Perang dingin ini terjadi selama puluhan tahun lamanya.
 
 
Sampai pada tahun 1991 Uni Soviet pun pecah, Putin melihat ini sebagai bencana besar. Banyak negara-negara dekat rusia yang seiring waktu ikut bergabung dengan NATO, termasuk penduduk Ukraina yang perlahan-lahan ingin memihak kepada barat. 
 
Pada tahun 2004, terjadi revolusi di Ukraina yang dinamakan “Revolusi Orange” yang dilakukan masyarakat Ukraina karena ingin lepas dari bayang-bayang Rusia, masyarakat Ukraina meminta agar Ukraina menjadi negara yang benar-benar berdaulat dan tidak bergantung lagi pada Rusia. Akhirnya, revolusi ini mengantarkan seorang presiden baru di Ukraina yaitu Viktor Yushchenko yang benar-benar ingin melepas Ukraina dari Rusia dan lebih memihak kepada Barat.
 
Keadaan tersebut menjadi ancaman bagi Rusia, mereka pun melakukan tindakan dan strategi yang salah satunya melakukan filtrasi politik dalam negeri Ukraina. Hal ini membuahkan hasil karena pada tahun 2010 pemimpin oposisi yang pro Rusia yaitu Viktor Yanukovych terpilih menjadi presiden Ukraina. 
 
 
Viktor Yanukovych (2010-2014) menolak kerja sama dengan Uni Eropa dan lebih memihak kepada Rusia, hal ini membuat Putin dan Rusia senang. Tetapi tidak dengan masyarakat Ukraina, akhirnya revolusi kembali terjadi pada tahun 2014, masyarakat Ukraina melakukan aksi unjuk rasa dan terjadi berbagai kerusuhan sampai melengserkan sang presiden. 
 
Buah dari revolusi yang dilakukan oleh masyarakat Ukraina adalah terjadinya kekosongan kekuasaan. Mengetahui hal itu, Rusia memanfaatkan kekosongan tersebut dengan mengambil paksa wilayah Crimea. Selain itu, Rusia juga menyalakan api pemberontakan dengan mendukung secara penuh kelompok separatis yang ada di Ukraina Timur. 
 
Pada tahun 2019, Volodymyr Zelenskyy seseorang yang juga anti terhadap Rusia berhasil terpilih menjadi presiden Ukraina. Ia menyatakan secara jelas keberpihakannya terhadap NATO dan pihak Barat, ia juga menyatakan secara tegas bahwa Ukraina tidak ingin berada di bawah bayang-bayang Rusia lagi. Sejak saat itu Ukraina kembali berpihak kepada NATO. 
 
Volodymyr Zelenskyy juga menyatakan keinginan bahwa Ukraina ingin bergabung kepada NATO. Tentu NATO menyambut hal tersebut dengan baik, karena bagi NATO sendiri ini adalah sebuah langkah yang menguntungkan, ketika Ukraina bergabung dengan NATO maka mereka bisa saja membuat pangkalan militer di sana, di bagian Eropa Timur. NATO sendiri juga mempunyai sebuah peraturan yaitu, “Jika satu anggota diserang, maka seluruh anggota lainnya akan ikut perang.” Mengetahui Ukraina kembali berpihak kepada NATO ini membuat Putin dan Rusia merasa terancam. Hal ini juga yang membuat hasrat Rusia untuk menguasai Ukraina jadi semakin besar. 
 
 
Pada November 2021, Rusia menggerakkan seratus ribu lebih pasukannya ke perbatasan Rusia-Ukraina yang siap siaga menyerang kapan saja. Putin juga membuat tuntutan terhadap NATO dan Amerika yang berisikan 1) Amerika dan NATO harus menarik pasukan dan senjata dari negara-negara dekat Rusia, 2) Amerika dan NATO tidak boleh menambah anggota baru, 3) Amerika dan NATO tidak lagi melakukan interferensi dalam bentuk apapun ke Eropa Timur.
 
Mendengar tuntutan Putin tentu saja Amerika dan NATO jelas menolak hal tersebut. Amerika dan NATO merasa Rusia tidak berhak untuk ikut campur tangan dan mengatur kebijakan-kebijakan yang mereka buat, karena Amerika dan NATO sendiri juga hanya berurusan dengan negara-negara yang berdaulat, tidak termasuk Rusia. 
 
Akan tetapi, Putin serius dengan tuntutan yang ia buat. Putin mengancam jika tuntutan tersebut tidak diindahkan dengan sebagaimana mestinya, ia akan melakukan invasi militer besar-besaran ke Ukraina atau secara tidak langsung ia bermaksud untuk mengambil daerah Ukraina secara paksa untuk kembali ke Rusia. Untuk menunjukkan keseriusannya pada tuntutan tersebut, Putin mengatakan secara tegas bahwa ia dan Rusia siap untuk perang nuklir.
 
 
Reporter: Wan Muna Marwah
Editor: Yoni Prawardayana

Editor: Yoni Prawardayana

Sumber: youtube @ferryirwandi, Youtube @Kok Bisa

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengenang Sosok Sang Legendaris Sepak Bola Pele

Jumat, 6 Januari 2023 | 07:47 WIB

Keren! Simak Keindahan Negara Maroko

Jumat, 16 Desember 2022 | 19:19 WIB

G7 Tekan Rusia dengan Menerapkan Batas Harga Minyak

Rabu, 7 Desember 2022 | 16:15 WIB

Huru Hara Pengaruh Media Massa di Tiongkok 

Selasa, 6 Desember 2022 | 19:23 WIB
X